SYAHWATpun jadi TUHAN


Sejatinya hidup dunia ini bagi manusia hanya ada dua jalan; jalan kebenaran dan jalan hawa nafsu. Jalan kebenaran adalah petunjuk yang diturunkan oleh Allah saw. sedangkan hawa nafsu merupakan jalan yang diprakarsai oleh setan sebagai musuh manusia guna menimbun bahan bakar api neraka pada hari kiamat nanti.

Bisa kita katakan bahwa hawa nafsu adalah kecenderungan tabiat terhadap hal yang sesuai dengannya. Dalam ruang lingkup pengertian ini ia tisdaklah tercela. Ibnu Qayyim berkata, “Kalaulah seseorang berpendapat bahwa hawa nafsu itu mutlak tercela, hal ini dapat dipahami karena pada umumnya hawa nafsu itu melahirkan sesuatu yang haram atau mengarah kepada yang haram karena kadanya melampaui batas.”

Seringkali memang, hawa nafsu itu mengajak kepada kenikmatan tanpa mempertimbangkan akibatnya. Padahal jika mengingat sebuah syair yang menyatakan, ’Banyak kelezatan yang membunuh kebahagian’, seseorang akan lebih berhati-hati dengannya.

Hawa nafsu seperti jaring-jaring yang menjerat. Situasi yang dijumpai memaksa untuk melakukannya, setelah itu akhir dari segala pilihan adalah tangisan dan penyesalan. Mulailah terhitung banyak orang yang terperangkap dalam dosa dan tidak lagi keluar.

Ketika seseorang mengikuti hawa nafsunya, walaupun tidak sampai merugikan, dia tetap akan merasakan kehinaan dalam dirinya karena posisinya yang telah kalah oleh hawa nafsu.

Bahayanya……Ngeri!!!!

Berbicara tentang hawa nafsu, kita ingat sekali ketika Allah mengisahkan Yusuf dalam Al-Qur’an. Ketika masalanya mengaitkan beliau dengan hawa nafsu seorang wanita yang tak terbendung. Seorang pria dihadapkan dengan wanita cantik jelita dengan gelora birahi menyala-nyala. Kegamuman siapa sampai panas membara hampir menyeret kedalam kelamnya jurang hitam?

Seseorang yang tergoda dengan hawa nafsunya untuk merasakan kenikmatan yang diharamkan, dan tidak memikirkan akibatnya, ia akan ketagihan hingga diarahkan kepada satu kondisi yang ia tidak lagi merasakan kenikmatan dengan mengikuti hawa nafsunya, karena hal itu sudah menjadi suatu yang biasa. Biasa dengan keburukan berarti biasa dengan kehinaan. Makanya, Yusuf memilih kesabaran sesaat demi selamatnya  ia dari jurang kehinaan

Ketika Dipertuhankan

Hawa nafsu menjalar pada diri seseorang laksana sebuah penyakit yang sangat ganas, bahkan lebih ganas dari pada rabies pada seekor anjing. Hawa nafsu lebih berbahaya karena tidak didasari oleh penderitaan tetapi lebih mematikan. Jika rabies dapat membinasakan jasad manusia maka hawa nafsu bisa membinasakan jiwanya. Ketika jiwa telah mati, hatipun tak bercahaya dan gelap gulita. Pada akhirnya, dia tidak lagi mampu menerima petunjuk dari Allah saw.

Dalam menghadapi hawa nafsu sangat dibutuhkan kesabaran. Seseorang yang ingin bertahan diatas jalan Allah harus memiliki nyali yang besar untuk melawan hawa nafsu. Imam syafi’i menjelaskan bahwa tak ada jalan yang ketiga bagi manusia. Di sana hanya ada dua jalan Allah saw dengan penuh kesabaran. Yaitu kesabaran yang ingat kepada Allah saw dan tidak membebek kepada orang-orang yang memperturutkan hawa nafsu merupakan bahaya laten bagi orang-orang berilmu. Karena bisa saja menjadi sesat walaupun berilmu. Sebabnya tak lain adalah karena mengikuti hawa nafsu Allah saw berfirman.

“Maka pernakah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai sesembahannya, dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu, (yang mana) Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya lalu meletakkan tutupan atas penglihatanya? Maka siapakah yang akan Allah?” (Al-Jatsiyah:23)

Kebanyakan pelaku maksiat mungkin tidak bermaksud melakukanya. Mereka hanya lemah menahan gejolak nafsunya, tidak cermat menangkap buah kesabaran dan memahami petaka yang diakibatkan hawa nafsunya. Padahal perbedaannya ibarat antara rasa manis dan pahit. Banyak keuntungan yang didapat dalam kesabaran, begitupun kerugian yang akan didapatijika hawa nafsu diperturutkan. Akhirnya, jika aturan-aturan Allah saw pun dilanggar, jadilah mereka sebagai ‘hamba’ hawa nafsunya

Manusia lebih unggul dari binatang, kerena manusia memiliki akal yang dapat mengendalikan hawa nafsunya. Jika manusia tidak mau menerima pertimbangan akal, dan merelakan hawa nafsu menguasainya, hinalah manusia dan lebih rendah derajatnya dari pada mahluk tak berakal alias binatang. Sungguh bahaya!

“Mereka itu tidak lain seperti binatang ternak,

Bahkan mereka lebih sesat jalannya daripada binatang ternak itu”

Semua binatang bebas dalam melampiaskan keinginannya tanpa pernah merasakan kesedihan dan kesusahan akibat mengikuti hawa nafsunya. Karena memang tak ada pertanggungjawaban kelak di akhirat bagi mereka. Namun kita, lain lagi masalahnya. Jika hawa nafsu yang kita pertuhankan maka panen sesal berkepanjangan. Begitu hina insan yang menjadi budak syahwat lagi hawa nafsunya! Waliyadzubillah. :mrgreen:

About Bimo

Pelajar hari ini pemimpin esok hari

Posted on 13 April 2010, in Kehidupan Islam. Bookmark the permalink. 2 Comments.

  1. tulisan yg bagus,,, keep workin..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: