Episode Cinta 2 : Sabrina


“Puyeng nih!!” kataku mendengus.

“Just tell me. I’ll be a shoulder to cry on,” Daus nyengir sambilmenepuk-nepuk pundaknya sendiri.

“Huuu….Kapan aku pernah nangis di pundakmu? Eh aku lapar nih! Kita makan yuk, sambil cerita. Tenang saja, kutraktir.”

Kali ini tujuan kami adalah restoran bakmi langgananku yang lokasinya tidak terlalu jauh dari kampus. Setelah sampai, memesan makanan dan minuman, barulah aku pada kondisi siap menumpahkan perasaanku. Daus duduk di depanku. Genggaman tangannya menopang dagunya yang ditumbuhi jenggot, dan sikunya menjadi tumpuannya. Aku hafal gayanya. Ia siap “to be a shoulder to cry on”. Lalu tumpah ruahlah semuanya. Mulai saat perjumpaanku pertama kali dengan Sabrina, hingga rasa yang melandaku akhir-akhir ini.

Selesai aku bercerita Daus tertawa. “Hahaha, sobatku ternyata terkena virus merah jambu.” Namun, begitu tawanya selesai, Daus menatap mataku dalam-dalam. “Kamu serius sama Sabrina?”

“Serius?” tanyaku mengernyitkan dahi.

“Kamu jatuh cinta sama dia? Kamu serius?” tanyanya lagi.Aku menarik nafas dalam lalu menghembuskannya lagi. “Jatuh cinta…..ya! Serius……mmm….apa maksudmu dengan serius?”

“Serius ya serius. Kalau kamu serius, sudah cepetan nikah saja!”

“Hahh?! Nikah? Belum pernah ada sejarah dalam keluargaku anak ingusan semester lima mau nikah,” tukasku. “Kalau kasih saran yang rasional dong!”

“Kurang rasional apa lagi? Kalau sudah punya perasaan macam begitu, daripada macam-macam, lebih baik nikah saja. Terhindar dari zina, halal pula.”

“Kamu ngomong begitu 3 tahun lagi. Pasti akan langsung kulamar dia. Kalau sekarang? Nggak mungkin!” Kusulut sebatang rokok untuk meredakan kekalutanku. Daus sudah sering memperingatkanku, “Awas kalau asapnya sampai terhisap olehku. Itu namanya sudah menzholimi orang lain. Aku tuntut kamu nanti di Yaumil Akhir.” Betapa seram ancaman Daus. Daripada berdebat, daripada dituntut di akhirat, biasanya aku memilih tidak merokok di hadapannya. Tapi kali ini lain. Tumben, Daus tidak melarangku merokok.

“Jadi, apa maumu sekarang?” tanya Daus. Bahunya bersandar ke kursi, menjauh dari kepulan asap rokokku.

Mataku menerawang. “Aku nggak tahu.”

Bakmi pesanan kami datang. Tapi, aku tidak lagi berselera. “Memangnya tidak boleh kalau aku jatuh cinta? Apa jatuh cinta itu dosa?” ucapku setelah menyedot jus alpukat yang langsung habis.

“Tidak. Tapi cinta perlu dimanajemen agar tidak berubah menjadi dosa. Kita yang harus menguasai cinta. Bukan cinta yang menguasai kita.”

“Aku toh tidak berbuat apa-apa. Bagaimana akan jadi dosa? Gini-gini aku masih bisa membedakan mana yang dosa dan mana yang tidak.” Sifat keras kepalaku mulai keluar. Daus diam, sibuk dengan bakminya. Kini aku menyulut batang ke dua.

“Aku akan bilang perasaanku ke Sabrina. Berani taruhan berapa? Aku yakin dia pasti akan jadi kekasihku.”

Daus mendongak. “Eh, apa maksudmu? Jangan macam-macam dengan Sabrina.”

“Ah lihat saja,” kataku mencibir. “Cepat atau lambat, Sabrina pasti aku dapatkan.”Daus menarik nafas panjang.

“Kamu lupa bahwa tidak ada pacaran dalam Islam?”

“Masih ingat. Tapi, kalaupun aku pacaran dengan Sabrina, pasti nggak akan terjadi apa-apa. Percaya deh. Memang mau ngapain sih?” kataku meyakinkan Daus. Daus lalu berceloteh tapi tak lagi kudengarkan. Ditelingaku suaranya lebih mirip nenek-nenek nyinyir yang bicara tanpa koma dan titik. Sedang pikiranku melayang-layang……kepada Sabrina.

Hari-hari selanjutnya aku melancarkan aksi pedekate alias pendekatan. Aku semakin rajin sholat di masjid kampus, walau sebenarnya jaraknya tidak dekat dari fakultasku. Biasanya kutunggu sampai Sabrina and the gank selesai dari sholat. Lalu aku lewat di depan mereka, menyapa Sabrina dan mengajaknya ngobrol.

Suatu siang yang terik, saat aku mengemudikan mobil keluar dari kampus, aku melihat Sabrina berdiri di halte bus. Sendirian. Wah kesempatan nih, pikirku. Kulambatkan mobil dan kuturunkan jendela kiri dari panel dekat persneling. Mobilku berhenti tepat di sampingnya.

“Hai Sabrina, mau kemana?” sapaku nyengir.

“Mau pulang.”

“Ayo ikut aku sekalian. Aku antar deh sampai di rumah.” Aku mencoba menawarkan tumpangan.

“Terima kasih. Tapi nggak usah repot-repot. Eh….dari jauh itu sepertinya bisku. Aku naik bis saja.” Tangannya menunjuk ke arah belakang. Mataku melirik ke kaca spion yang tergantung di depan. Tak tampak bis di sana. Kubuka pintu mobil dari dalam.

“Mana bisnya? Daripada panas-panas naik bis, lebih baik sama aku. Aku siap kok mengantar Sabrina kemana saja.” Kukeluarkan jurus-jurus rayuanku.

“Nggak deh. Makasih tawaran kamu. Tapi aku nggak bisa.”

“Ayo masuk. Kamu kepanasan tuh!” Kulihat diatas alisnya ada butir-butir keringat mengucur. Sabrina tak bergeming.

“Kenapa sih kamu?” tanyaku mulai tak sabar.

“Maaf, aku nggak bisa.”

“Kenapa?”

“Aku nggak mau berdua saja dengan kamu di dalam mobil. Kecuali seperti dulu. Kita beramai-ramai dan pergi memang ada keperluan. Maaf. Aku naik bis saja.”

Ternyata dia masih saja tetap teguh kalau punya pendirian. Sabrina tidak berubah. Aku mengatupkan gerahamku. Kesabaranku habis sudah. Kubanting pintu mobil lalu kularikan Audiku dengan suara menderu. Huh! Beraninya dia menolak tawaranku. Aku mendidih.

Esok harinya, di kampus, begitu bertemu Daus, langsung saja kutumpahkan kekesalanku. Kuceritakan kejadian kemarin bersama Sabrina. Daus malah nyengir sambil geleng-geleng kepala.

“Kamu yang salah. Sabrina kok dirayu.”

“Lho?! Aku hanya menawarkan diri mengantar dia pulang. Apa salahnya?”

“Jelas dong. Dia nggak mau berduaan di mobil sama kamu.”

“Siang-siang bolong. Memangnya aku mau ngapain sama dia? Apa aku ada tampang pemerkosa?” Aku tambah kesal.

“Bukan begitu. Dan tidaklah perempuan dan laki-laki berduaan tanpa disertai muhrimnya, melainkan yang ke tiga adalah syetan.” Daus mulai berkhotbah. “Islam mengajari untuk menutup segala kemungkinan sejak awal. Sabrina pastitahu hal seperti itu. Dia menolak naik mobil berdua kamu untuk mencegah segala macam hal.”

“Apa sih yang harus dicegah? Apa salahku? Kamu nggak percaya sama aku?”

“Kalau Sabrina kemarin mau diantar, pasti kamu nggak akan berhenti sampai di situ kan?” tanya Daus.

“Hehehe…iya dong! Kalau dia mau, tiap hari kuantar dan kujemput juga boleh.”

“Hmm….dan kalau Sabrina juga mau diantar dan dijemput tiap hari?” Tanya Daus lagi.

“Berarti tinggal satu langkah lagi dan dia akan jadi pacarku,” kataku penuh nada kemenangan.

“Pacar? Ngaco kamu!” Mata Daus membelalak. “Pacaran itu mendekati zina.”

“Aku janji deh akan menjaga Sabrina sebaik-baiknya. Aku kan sayang sama dia.”

“Apa kamu yakin?” Kening Daus berkerut. “Kamu yakin bisa mengatasi keinginan untuk saling berdekatan? Kamu yakin nggak ada dorongan dalam diri kamu untuk menggandeng tangannya? Kamu yakin bisa mengatasi nafsumu ketika hanya berdua, nggak ada orang lain, sedang kamu ingin menciumnya?”

Aku diam, berpikir sebentar. “Suer deh. Dia nggak akan kusentuh. Paling banter kita jalan-jalan ke mal, ngobrol-ngobrol.” Aku berusaha meyakinkan Daus kalau aku pacaran dengan Sabrina pasti tidak akan ada apa-apa.

“Oke. Satu tahun mungkin bisa seperti itu. Tapi, tahun ke dua pacaran, tahun ke tiga? Katanya tiga tahun lagi baru mau nikah. Selama tiga tahun pacaran itu….beneran nih kamu sanggup? Yakin nih sama-sama cinta sudah tiga tahun pacaran bisa tahan cuma liat-liatan?” Daus menepuk pahaku. “Yakin nih? Ayolah, aku juga laki-laki. Jangan sok kuat iman.”

Aku bungkam tak bisa menjawab pertanyaan-pertanyaannya.

“Kalau aku sih pilih cara paling aman. Nikah, terus bebas ngapain aja sama istri. Kalau belum mampu nikah, ya puasa.” Daus terkekeh.

Hmmm….sekarang saja rasa kangennya pada Sabrina sudah merambat ke ubun-ubun. Kalau lihat dia tersenyum atau cemberut rasanya jadi gemas. Lalu bagaimana kalau pacaran? Benarkah aku sanggup tidak menyentuhnya sama sekali? Bahkan sekadar mengandengnya saat menyeberang jalan misalnya. Aku mulai ragu pada diriku sendiri.

“Kupeluk ia dengan sepenuh buncahan rindu, namun terobatikah rindu setelah itu? Kukecup bibirnya demi melampiaskan tuntutan hati, namun ia justru semakin menjadi-jadi. Sepertinya kegelisahan jiwa tak bakal terobati. Selain jika dua ruh itu bersatu padu.”

Daus membacakan syair Ibnu Ar Rumi yang terkenal itu. “Percuma kalau pacaran. Dua ruh bersatu padu itulah pernikahan. Jangan nanggung friend!” kata Daus. “Masih punya niat mau pacaran?” Daus meninju bahuku, pelan. “Yakin Sabrina mau sama kamu? Ngaca dulu sana!”

“Tampang oke, otak encer, tongkrongan yahud begini apa yang kurang?” kataku pede.

“Sabrina nggak butuh cowok macem begitu. Kamu baca Al Quran tajwidnya masih belum beres. Makhrojnya juga masih belum tepat. Lancar juga enggak. Beresin dulu tuh. Makanya jangan suka males kalau diajak BBQ sama anak-anak.”

“Ayo deh! Kalau begitu sekarang juga aku mau belajar,” ujarku bersemangat.

“Deuuu….segitu semangatnya,” goda Daus.

Berdebat dengan Daus memang percuma, karena dia memang benar. Dasar aku yang susah dinasehati. Kupikir, bodoh juga aku. Mana mungkin Sabrina mau diajak pacaran. Ah, kalau sedang dilanda cinta, akal pun sulit diajak kompromi.

“Heh!” Daus menepuk lenganku keras.

“Wadawwww!! Apaan sih bikin kaget begini?” protesku.

“Itu Pak Sugito udah keluar dari ruang dosen. Kita kan sekarang ada kuliahnya dia. Keasyikan ngobrol jangan sampai lupa kuliah dong!”

“Memang sekarang sudah jam berapa?” Aku melirik Rado di pergelangan tanganku. “Hahh iya! Udah jamnya. Cepetan lari. Nanti duluan Pak Sugito masuk kelas bisa-bisa kita nggak boleh masuk.”

Lalu aku dan Daus terbirit-birit lari menuju kelas.

About Bimo

Pelajar hari ini pemimpin esok hari

Posted on 3 March 2010, in Sastra and tagged . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: