Episode Cinta 1 : Sabrina


Sabrina Nur Laily. Sabrina cahaya malam. Ah, cocok sekali namanya. Ia memang bersinar, tapi sinarnya tak menyilaukan. Aku pertama kali mengenalnya saat masa orientasi mahasiswa baru dan penataran P4. Seluruh mahasiswa baru dikumpulkan, lalu dibagi dalam beberapa kelompok dan regu. Aku satu regu dengannya.

Sabrina, anak dari Fakultas Teknik itu, ternyata pandai berdebat. Diskusi dalam regu lebih mirip pertarungan satu lawan satu antara aku dan dia. Yang lain berfungsi sebagai penonton. Yang berpikir-pikir akan memihak aku atau dia.

“Aku nggak setuju sama Pancasila. Memang dia itu apa? Agama? Ideologi yang benar itu Islam.” Gadis yang selalu memakai rok dan jilbab lebar itu berkata penuh semangat. Aku melirik ke semua anggota regu. Untungnya kita muslim semua. Kalau tidak, wah bisa rame nih.

“Iya. Tapi Indonesia itu Bhinneka Tunggal Ika. Ada lima agama yang diakui negara. Pancasila berfungsi mempersatukan perbedaan-perbedaan itu. Indonesia bukan negara agama.” Aku pun tak kalah bersemangat.

Begitulah awal perseteruan kami. Aku si Pembela Pancasila dan Sabrina si Pejuang Islam. Sabrina pasti jenis Islam yang “begitu”, pikirku. Aku tidak menemukan definisi yang tepat dengan “begitu” yang aku maksud. Masa itu jumlah jilbaber masih sedikit sekali. Jadi jilbaber identik dengan Islam yang “begitu”.

“Hukum negara itu buatan manusia. Nggak mungkin adil. Hukum Allah yang paling adil. Syariat Allah harus ditegakkan.” Seperti biasa, Sabrina berapi-api. Eitss, biar masih culun begini, aku sudah resmi jadi mahasiswa Fakultas Hukum. Baru tadi pagi kartu mahasiswanya dibagikan. Aku mulai terbakar.

“Keadilan? Di Pancasila juga ada. Nggak inget ya? Sila kelima.” Aku menyindir.

“Hukum itu tergantung dimana dia diletakkan. Hukum turut mengakomodasi budaya dan adat setempat. Maka itu ada hukum adat. Kalau disahkan, ia jadi hukum yang mengikat.”

“Kalau begitu, hukum sifatnya relatif?” tanyanya.

“Ya. Seperti di Amerika Serikat, negara federal. Setiap negara bagian mempunyai hukum sendiri-sendiri yang berbeda dengan negara bagian lain. Yang penting hukum disepakati dan disahkan.” Uhh, gayaku menerangkan layaknya pengacara kondang saja.

“Kalau relatif, dimana letaknya keadilan?”

“Keadilan itu ketika setiap orang berusaha menegakkan hukum-hukum yang berlaku di wilayah tersebut.” Aku menangkis pertanyaannya.

“Sumber hukumnya apa? Darimana?”

“Sumber hukumnya banyak. Hukum yang sudah berlaku sebelumnya, adat, norma, kebiasaan yang ada di wilayah tersebut. Kalau di Indonesia, nggak perlu ditanya. Kan baru kemarin materinya. Ada Pancasila, UUD 1945, UU, dan yang lainnya. Kamu kemarin pasti nggak nyimak deh!”

“Memang yang menciptakan Pancasila siapa?” Sabrina tetap memburu.

“Uh pakai nanya. Kalimat retoris. Aku nggak mau jawab!” tukasku.

“Kalau yang jadi sumber hukum saja buatan manusia, bagaimana mungkin bisa tercipta keadilan? Sumber hukum hanya Al Quran dan Sunnah.” Suara Sabrina melunak. “Dari kedua sumber hukum itu, bisa ditarik berbagai macam hukum yang berkaitan dengan kehidupan manusia. Hukum masalah ibadah maupun hukum dalam hubungan antar manusia. Kalau mau diteliti lebih lanjut, ada banyak hikmah dibalik hukum-hukum Islam. Seperti qishash, potong tangan, rajam. Memang perlu waktu untuk memahaminya.”

Aku diam, yang lainnya juga. Sabrina melanjutkan. “Hukum di Indonesia hanya mengakui yang sudah tertulis. Hukum Pidana secara formal adalah peninggalan Belanda. Dengan kata lain sebenarnya untuk kasus pidana tidak ada yang berdasarkan adat atau kebiasaan setempat. Sedangkan hukum Islam itu universal, berlaku untuk siapa saja. Mencakup segala segi kehidupan, baik kehidupan pribadi, keluarga, maupun masyarakat. Pokoknya komplit. Kesimpulannya Pancasila nggak pantas jadi sumber hukum karena buatan manusia.”

Rupanya anak Teknik yang satu ini pintar berceloteh tentang hukum. Jangan-jangan Sabrina salah masuk jurusan?

“Eh, nanti dulu. Pancasila itu pemersatu dari Indonesia yang heterogen. Jangan lupa kemajemukan kita,” aku menukas.

“Iya nih Sabrina. Bagaimana dengan agama lain. Kita nggak boleh egois begitu,” ujar salah satu teman seregu menimpali.

“Islam itu rahmatan lil ‘alamin. Islam pemersatu dan melindungi agama-agama lain. Contoh kongkritnya ada di masa Rasulullah dan kekhalifahan Islam.” Sabrina tak mau kalah.

“Ah, sudah nggak usah bawa-bawa agama deh! Sabrina tuh aliran Islam fundamentalis ya?”

“Nggak usah ribut-ribut. Pokoknya ditulis, dikumpul, dapet A. Beres!”

“Bener tuh! Ribut amat sama Pancasila. Gue kagak ngarti dah. Bukan urusan gue.”

Serentet komentar meluncur keluar dari bibir teman-teman seregu. Dari tadi mereka bungkam, sibuk mengunyah snack yang dibagikan panitia penataran.

Waktu yang tersisa tidak banyak lagi. Hasil diskusi harus segera dikumpulkan. Semua sependapat denganku, kecuali Sabrina. Aku bersemangat merangkai kata hasil diskusi. Salah satu teman mencatat perkataanku. Kami tidak memperdulikan Sabrina yang duduk diam memperhatikan kami. Hahaha, aku merasa di atas angin sekarang. 1-0 pikirku. Yang banyaklah yang menang. Namanya juga demokrasi.

Sebetulnya Sabrina orangnya enak diajak bicara. Pikirannya cerdas. Kadang aku mencoba memulai percakapan ringan. Tapi sayang, kami terlanjur saling beroposisi. Layaknya Tom & Jerry. Geram sekali aku kalau melihat Sabrina tetap teguh pada pendiriannya. Padahal jelas-jelas dia kalah. Satu regu mana ada yang mendukung pendapatnya.

“Keras kepala! Egois!” desisku sambil melotot. “Akui saja kekalahanmu Sabrina.”

“Ini bukan soal menang atau kalah. Pijakanku kuat, landasanku kokoh. Hati-hati, justru kamu yang akan jatuh. Toh aku tidak pernah memaksakan pendapatku pada siapa pun. Kamu bebas. Mau tetap berpendapat seperti itu, itu urusanmu.” Gayanya seperti orang yang acuh tak acuh. Huh sombong, pikirku.

Sehabis masa orientasi dan penataran P4, praktis aku hampir tak pernah bertemu lagi dengan Sabrina. Jarak antar fakultas di kampusku lumayan jauh. Cukup lumayan kalau berjalan kaki. Dan lagi, aku tidak punya urusan yang mengharuskanku ke gedung Fakultas Teknik.

Lima semester kemudian, aku mulai memahami apa yang pernah Sabrina ucapkan. Aku bukan lagi si Pembela Pancasila. Tapi tak cocok juga disebut Pejuang Islam. Pergaulanku mulai merambah ke mushola dan masjid kampus. Daus, temanku satu jurusan, yang menculikku dan menceburkan aku ke kehidupan bernuansa Islami. Isi otak Daus tak berbeda jauh dengan Sabrina. Jenis Islam yang “begitu”. Bedanya, Daus sabar meladeni sikapku. Dia selalu saja bisa mematahkan serangan argumenku yang membara. Pemahamanku tentang Islam mulai bergerak perlahan. Merayap, merangkak, dan tertatih-tatih. Aku paham sekarang. Ternyata akulah si egois dan keras kepala itu.

Universitas akan mengadakan perhelatan akbar. Forum silaturahmi antara mahasiswa muslim seluruh Indonesia. Daus menyeret aku ke dalam kepanitiaan. Jadilah aku di seksi transportasi. Lebih tepatnya, aku jadi sopir yang siap mengantar panitia untuk mengurus segala macam urusan kesana kemari. Untuk sementara, selama aku di kampus, Audi A4 merah milikku jadi aset panitia. Kalaupun aku sedang ada jam kuliah, mobilku boleh dipakai anak lain untuk urusan penting. Tentu saja dengan pendahuluan wejangan berhati-hati plus ancaman kalau ada apa-apa dengan si Audi tersayangku.

“Sabrina,” ucapku lirih melihat sosoknya. Aku baru melihatnya di rapat kali ini. Rapat yang lalu ia tak muncul. Ia bertugas sebagai koordinator seksi yang harus menghubungi universitas se Jakarta. Seusai rapat aku menyapanya.

“Sabrina, apa kabar? Masih ingat aku?”

Bibirnya membentuk lengkung indah bak pelangi terbalik. “Alhamdulillah. Kabarku baik. Bagaimana kabar si Pembela Pancasila?” Kami tertawa bersama.

“Ah, jangan begitu. Aku juga baik-baik. Aku mau minta maaf atas semua yang dulu-dulu. Aku mengaku kalah. Ternyata kamu yang benar.”

“Tidak ada yang kalau atau menang. Memangnya siapa yang bikin pertandingan?”

“Hahaha. Ya….siapa ya? Eh…bagaimana kuliahmu?” Aku balik bertanya.

“Lancar-lancar semua. Sekarang lagi banyak tugas. Kamu?”

“Lagi getol-getolnya belajar. Aku nggak mau kalah sama anak Teknik yang ngerti Hukum. Betul nggak?” godaku.

“Semangat belajarnya bagus. Cuma, apa di otak kamu nggak ada persoalan lain selain menang dan kalah?” Aku tergelak tapi tak menjawab.

“Kamu panitia juga?” tanyanya. Kujawab dengan anggukan. “Kalau begitu selamat bekerja. Sukses ya!!!” katanya. Sedetik kemudian ia sudah berlari menyusul temannya.

Beberapa kali Sabrina dan timnya harus mendatangi kampus-kampus di seputar Jakarta. Posisi di bagian transportasi mengharuskanku mengantarnya. Dengan senang hati aku menjalankan tugas. Kami selalu pergi beramai-ramai. Aku mulai bisa menangkap sisi lain dari Sabrina. Orangnya lumayan kocak.

Aku menoleh dengan cepat. Ujung bola mataku menangkap sekilas sosok Sabrina. Yah, itu memang dia. Meski dari belakang setiap akhwat tampak serupa, tapi kuyakin itu ia. Lambaian ujung jilbabnya. Sosok tubuhnya. Caranya mengayunkan langkah. Aku jadi kaget sendiri. Sebegitu dalamkah Sabrina tersimpan dalam memoriku? Acara akbar itu telah usai. Aku tak pernah lagi bertemu Sabrina. Kecuali beberapa kali aku melihatnya dari kejauhan saat aku sedang sholat di masjid kampus. Seperti saat ini.

Aku terpekur diam. Sekilas tampak bagai orang sedang berzikir. Tapi tidak. Tepatnya aku sedang melamun. Bingung. Aku dilanda penyakit aneh. Satu saat aku merasakan ekstasi. Perasaan melayang yang bergelora. Kadang-kadang ada sedikit rasa nyeri di dada, lalu seperti dikerumuni semut-semut kecil, dan ada rasa nyaman yang mengalir ke seluruh tubuh. Tidak jarang pula aku senyum-senyum sendiri. Semua karena sebuah nama. Sabrina.

Ia tak bagai bidadari. Bidadari seperti apa wujudnya aku juga tidak tahu. Yang pasti ia jauh dari sosok Cindy Crafword, apalagi Pamela Anderson. Hahhh?? Ngaco pikiranku. Apa miripnya. Kalau Cindy Crafword pakai jilbab, yah….agak-agak mirip juga dengan Sabrina. Yang mirip…jilbabnya. Wah! Pikiranku makin tak karuan. Cantik? Cantik itu relatif, kata banyak orang. Jaman Renaissance, cantik identik dengan tubuh besar dan pipi tembem berisi. Masa sekarang, cantik adalah ramping bak sosok boneka Barbie. Bagiku dia cantik. Sorot matanya tajam tapi teduh, alisnya tebal, bulu matanya lentik, bibirnya merah. Belum lagi ia cerdas dan wawasannya luas. Yah, dia memang tak seperti bidadari. Tapi, urusan jatuh cinta kan tidak ada hubungannya dengan sosok bidadari. Uppsss!!! Apa kataku tadi? Jatuh cinta?!

Aku termangu-mangu dalam posisi bersila. Sebuah tepukan hangat mendarat di punggungku. “Hei jangan melamun!” Aku menoleh. Ternyata Daus.

“Sudah sholat?” Aku mengangguk. “Aku cari-cari kamu kemana-mana. Rupanya sekarang kamu lebih sering sholat di masjid kampus daripada di mushola fakultas.” Daus memandang lekat ke mataku. “Ada apa? Ceritalah. Aku melihat sesuatu di matamu.” Daus ini, firasatnya memang tajam. Selalu tahu kalau aku sedang ada yang dipikirkan.

About Bimo

Pelajar hari ini pemimpin esok hari

Posted on 26 February 2010, in Sastra and tagged . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: