Mengungkap Kepalsuan Ahmadiyah


Ahmadiyah, adalah nama yang hari-hari ini tiba-tiba menjadi buah bibir banyak orang. Berakhirnya keputusan Pemerintah daerah (Pemda) Bogor untuk menutup pusat aliran sesat Ahmadiyah pasca pengepungan massa umat Islam di Pusat Ahmadiyah, Kampus Mubarok, Parung Bogor Jum’at (15/7) pekan lalu ternyata tak menjadikan isu ini berhenti begitu saja.

Sekelompok orang –namun tak mewakili suara umat Islam– bernama Aliansi Masyarakat Madani bahkan menuntuk Majelis Ulama Indonesia (MUI) mencabut fatwa yang memandang sesat terhadap jamaah ini.

Sejumlah nama yang tergabung dengan Aliansi itu adalah; Sholahuddin Wahid, Adnan Buyung Nasution, Dawam Raharjo, Johan Efendi, Ulil Abshar Abdala, M. Syafii Anwar, Musdah Mulia, Ali Abdurahman, Trisno T Sutanto, Munawar dan Uli Parulin.

“MUI perlu mencabut semua fatwa yang memandang sesat aliran lain yang berbeda, karena fatwa tersebut seringkali dijadikan landasan untuk melakukan tindakan kekerasan dan keresahan, ” ujar siaran pers Aliansi Masyarakat Madani dikutip detik.com, Jum’at (22/7). Dalam siarannya, Aliansi MAdani meminta negara memberikan kebebasan setiap warga.

Sebelumnya, ada tokoh Muhammadiyah, Dawam Raharjo yang gencar mengecam MUI, FPI, dan LPPI. Dawam, bahkan menulis di koran Indo Pos (anak perusahaan media Jawa Pos group), berjudul “Teror Terhadap Ahmadiyah.”

Dalam tulisannya, Dawam nampak gusar. Dengan dalih HAM (Hak asasi manusia), dia tudingkan telunjuknya itu dengan berteriak bahwa FPI (Front Pembela Islam) dan LPPI (Lembaga Penelitian dan Pengkajian Islam) berada di balik terror itu.

Seolah tak ingin ketinggalan, anak-anak muda Muhammadiyah yang dikenal beraliran liberal, JIMM (Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah) mengadakan konperensi pers di kantor Pusat PP Muhammadiyah membela Ahmadiyah. Sukidi, mengambil kesempatan untuk membela.

Fatwa sesat Ahmadiyah bukanlah pertama kali. Pada Munas II Alim Ulama MUI 1980, fatwa terhadap Ahmadiyah sudah ada. Isinya, Ahmadiyah dianggap sudah keluar dari Islam, sesat dan menyesatkan. Hal itu juga dikuatkan dengan surat edaran Dirjen Bimas Islam dan Urusan haji Departemen Agama, agar ulama menjelaskan sesatnya Ahmadiyah.

Sejarah Panjang

Ahmadiyah datang ke Indonesia sejak 1925. Awal mulanya digandeng oleh Muhammadiyah karena dianggap sebagai pembaharu. Namun di tahun 1930-an kemudian Muhammadiyah baru tahu bahwa Ahmadiyah itu sesat, bukan pembaharu sebagaimana yang semula difahami. Maka Muhammadiyah tidak lagi menjadikan Ahmadiyah sebagai kawan sejak 1930 itu.

Meskipun tahun 1930 pimpinan Muhammadiyah sudah pidato resmi bahwa Ahmadiyah yang selama ini dijadikan teman ternyata bukan teman. Namun sampai tahun 2000 masih ada petinggi Muhammadiyah, Dawam Rahardjo, yang mengatas namakan Muhammadiyah mengundang Khalifah IV Ahmadiyah, Thahir Ahmad, di London utk ke Indonesia di masa Presiden Gus Dur.

Kedatangan utusan Ahmadiyah ini diundang oleh orang Muhammadiyah dan disambut oleh bekas ketua Muhammadiyah yang sedang jadi ketua MPR, Amien Rais dengan berangkulan di Gedung DPR/MPR. Dawam Rahardjo, ketika itu, bahkan mengalungkan bunga kepada Thahir Ahmad di Bandara Cengkareng. Semua itu kemudian disiarkan oleh media Ahmadiyah.

Seorang pakar dari Pakistan, Manzhur Ahmad Chinioti Pakistani, penulis buku Keyakinan Al-Qadiani, sengaja hadir ke Indonesia kemudian berpidato di Masjid Al-Azhar Jakarta. Pakar dari Pakistan ini memprotes keras, agar Dawam Rahardjo diadukan ke pengadilan, karena telah mengatas namakan Muhammadiyah, mengundang penerus nabi palsu ke Indonesia.

Ketika saya bersama Haryadi mantan Ahmadiyah, Farid Okbah- Al-Irsyad, dan Abu Yazid- Persis masuk ke kampus Mubarok Parung Bogor saat Thahir Ahmad ada di sana. Saat itu kami ingin bertamu kepada teman Ahmad Haryadi, namun kami ditangkap.

Lalu saya berbincang-bincang dengan sebagian mereka, ketika pihak keamanan Ahmadiyah sedang mengusut teman-teman saya yang bertamu tapi ditangkap ini. Saya tanyakan, kenapa Dawam Rahardjo datang ke London mengundang Thahir Ahmad? Dijawab, karena Ahmadiyah membiayai Dawam Rahardjo.

Pantaslah, di saat ada desakan dari umat Islam sekitar kampus Mubarok Pusat Ahmadiyah agar Ahmadiyah dan kampusnya dibubarkan, maka Dawam Rahardjo menjadi “pahlawan” kesiangan. Dawam berbicara di konperensi pers di PBNU yang diselenggarakan oleh Johan Effendi yang memang anggota resmi Ahmadiyah selaku ICRP yang didanai lembaga kafir The Asia Foundation berpusat di Amerika.

Kepalsuan Ahmadiyah

Selama ini kalangan Ahmadiyah sering mengelak tentang kepalsuan aqidah yang kemudian dianggap banyak kaum muslim telah sesat dan keluar dari Islam.

Dalam kitab Tadzkirah, (hal. 637), (kitab pegangan utama Ahmadiyah), yang kemudian dianggap sebagai ‘Kitab Suci’ nya, dikenal banyak menyelewengkan ayat-ayat Al Qur’an.

Misalnya disitu ada lafadz, “Ïnna anzalnaahu qariiban minal qadiyaan-wabilhaqqi anzalnaahu wabilhaqqi nasal“, artinya “Sesungguhnya kami telah menurunkan kitab suci (tadzkirah) ini dekat dengan Qadian (India). Dan dengan kebenaran kami menurunkannya dan dengan kebenaran dia turun.”

Ahmadiyah bahkan menganggap kaum Muslim adalah musuh baginya. Seorang Muslim yang tidak percaya akan da’wah pengakuan Ghulam Ahmad sebagai “nabi” dan “rasul”, maka orang Muslim itu dianggap kafir.

Dalam Kitab Tadzkirah Wahyu Muqoddas, wahyu suci yang dianggap dari Allah kepada Mirza Ghulam Ahmad tertulis;

Sayaquulul ‘aduwwu  lasta mursalan.” (Musuh akan berkata, kamu bukanlah –orang yang– diutus (oleh Allah). (dalam Tadzkirah, halaman 402).

Basyiruddin, salah satu adik pendiri Ahmadiyah, Mirza Ghulam Ahmad, berkisah, ” “Di Lucknow, seseorang menemuiku dan bertanya: “Seperti tersiar di kalangan orang ramai, betulkah anda mengafirkan kaum Muslimin yang tidak menganut agama Ahmadiyah?” Kujawab: “Tak syak lagi, kami memang telah mengafirkan kalian!” Mendengar jawabanku, orang tadi terkejut dan tercengang keheranan.” (Anwar Khilafat, h. 92).

“Barangsiapa mengingkari Ghulam Ahmad sebagai ‘nabi’ dan ‘rasul’ Allah, sesungguhnya ia telah kufur kepada nash Quran. Kami mengafirkan kaum Muslimin karena mereka membeda-bedakan para rasul, mempercayai sebagian dan mengingkari sebagian lainnya. Jadi, mereka itu kuffar!” (5.k. al-Fazal, 26 Juni 1922).

“Barangsiapa mengingkari Ghulam Ahmad sebagai ‘nabi’ dan ‘rasul’ Allah, sesungguhnya ia telah kufur kepada nash Quran. Kami mengafirkan kaum Muslimin karena mereka membeda-bedakan para rasul, mempercayai sebagian dan mengingkari sebagian lainnya. Jadi, mereka itu kuffar!” (5.k. al-Fazal, 26 Juni 1922).

Lebih Dari Narkoba

Sebenarnya masih banyak ‘kepalsuan’ lain yang telah keluar dari aqidah Islam. Diantaranya adalah; ia mengaku sebagai nabi dan rasul membawa syari’at, menerima wahyu seperti Al-Qur’an dan menerapkannya kepada dirinya. Kesesatan-kesesatannya itu bahkan lebih berbahaya dibanding Narkoba.

Di negeri jiran, Malaysia, Ahmadiyah telah dilarang sejak 1975. Majelis Ulama Indonesai(MUI) telah memfatwakannya sejak 1980.

Ormas-ormasi Islam lainnya, seperti Forum Ukhuwah Islamiyah (FUI) mengajukan surat ke kejaksaan Agung untuk dilarangnya aliran sesat Ahmadiyah, September 1994.  Larangan Ahmadiyah oleh beberapa Kejaksaan Negeri (Subang 1976, Selong Lombok Timur 1983, Sungai Penuh 1989, dan Tarakan 1989) serta larangan Ahmadiyah oleh Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara 1984.

Hampir tak ada ormas Islam yang mengakui Ahmadiyah itu tidak sesat. Bahkan Rabithah Alam Islami (Liga Dunia Islam) yang berpusat di Makkah tahun 1394H menghukumi aliran Ahmadiyah itu kafir, bukan Islam. Rabithah bahkan melarang Ahmadiyah berhaji ke Makkah.

Kata Nabi Muhammad, “Kiamat tidak akan tiba sebelum dibangkit para Dajjal pendusta yang jumlahnya hampir tiga puluh orang. Setiap mereka mendakwakan bahwa dirinya adalah Rasul Allah.” (HR Al-Bukhari dan Muslim).

Karena itulah, di zaman Abu Bakar ra, beliau mengerahkan 10.000. tentara untuk memerangi nabi palsu bernama Musailamah Al-Kadzdzab, hingga tewas. Agak aneh. hari ini, ada sebagaian sekelompok orang seperti pahlawan kesiangan justru membela kaum “nabi palsu” dan bertentangan dengan “Nabi Asli”. Wallahu a’lam.

*) Penulis Buku Aliran dan Paham Sesat di Indonesia

About Bimo

Pelajar hari ini pemimpin esok hari

Posted on 2 February 2010, in Untittle. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: