Bersentuhan Dengan NonMuhrim


Assalamualaikum …….
Apakah dperbolehkan :
1. Jika kita (bersentuhan) bersjabatan tangan dengan alasan agar orang yang ingin berjabatan tidak tersinggung misalkan karena dia telah mengulurkan tanganya.
2. Kita duduk dusuatu tempat kemudian ada orang(nonmuhrim) yang duduk di samping kita(hingga bersentuhan) kalau kita pindah takut orang tersebut tersinggung dan bagai dengan orang yang bersentuhan(berdampingan)duduk di angkutan umum.
Sekian

Assalamualaiku …..

Jawaban

Assalamu `alaikum Warahmatullahi Wabaraktuh

Alhamdulillahi rabbil `alamin, washshalatu wassalamu `ala sayyidil mursalin, wa ba`du,

Kita memang perlu menjaga perasaan orang lain dengan menjaga agar orang lain itu tidak tersinggung dengan perilaku kita. Ini sangat dianjurkan dalam Islam, karena Islam memang memerintahkan kita untuk bertenggang rasa serta berbaik hati terhadap orang lain.

Seorang muslim itu harus bermanfaat bagi orang lain serta bisa memberikan rasa nyaman, ketenangan dan ketentreraman. Inilah yang dahulu dilakukan secara langsung oleh Nabi kita Muhammad SAW dan diajarkannya kepada para shahabat beliau.

Namun sebagai muslim yang baik dan nalar, kita pun juga harus menjaga `perasaan` Allah SWT, bukan ? Bagaimana mungkin kita bisa sangat menjaga perasaan makhluk sementara kita tidak menjaga perasaan Al-Khaliq ? Tentu tidak adil, bukan ?

Maka dalam hal ini, kalau kita bicara prioritas, secara nalar pastilah kita akan mengatakan bahwa menjaga perasaan Allah SWT itu jauh lebih urgen, lebih penting dan lebih utama dari pada menjaga perasaan manusia biasa. Tentu hal ini bila kepentingan Allah SWT bertabrakan langsung dengan kepentingan manusia.

Misalnya dalam masalah bersentuhan dengan bukan mahram itu. Allah SWT telah menetapkan bahwa bersentuhan dengan wanita yang bukan mahram adalah haram. Paling tidak, itulah yang disepakati hukumnya oleh para ulama. Maka sikap kita sebagai hamba yang shalih tentu lebih menjaga perasaan Allah dari pada menjaga perasaan manusia. Kalau secara ekstrim mau kita benturkan.

Namun sebenarnya kita bisa saja menjalankan aturan Allah SWT itu dengan tidak harus membuat tersinggung manusia. Tidak ada salahnya bila secara baik-baik kita jelaskan bahwa sebagai muslim kita harus taat kepada Allah dan tidak boleh bersentuhan dengan yang bukan mahram. Sekedar menyampaikan hal itu tentu tidak akan menyinggung orang lain, bukan ? Asalkan cara pengungkapannya tidak terkesan arogan, sarkastik atau terkesan sok tahu.

Sampaikan saja secara pelan-pelan, dengan cara baik-baik dan pada kesempatan yang terkesan akrab. Tidak harus dengan suasana yang kaku dan formal. Barangkali dengan itu seseorang akan dengan mudah bisa memahami tanpa harus merasa tersinggung.

Mungkin Anda bisa mengambil contoh dari sebagai pelawak di negeri ini yang melawak dengan cerdas di depan pejabat. Meski isi lawakan mereka itu sebenarnya merupakan kritik tajam kepada pejabat itu, namun karena disampaikan dengan cara yang segar dan tidak menunjuk hidung secara langsung, justru para pejabat itu malah ikut terpingkal-pingkal mendengar lawakan segar itu. Meski barangkali mereka pun dalam hati ikut mikir juga. Sebab ternyata materi lawakan justru menelanjangi perilaku menyimpang mereka. Tapi melawak dengan metode ini butuh kemamppuan, kecerdasan dan jam terbang yang lumayan tinggi.

Hadaanallahu Wa Iyyakum Ajma`in, Wallahu A`lam Bish-shawab,
Wassalamu `Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.

About Bimo

Pelajar hari ini pemimpin esok hari

Posted on 2 February 2010, in Konsultasi and tagged . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: