Episode Cinta 2 : Sabrina

“Puyeng nih!!” kataku mendengus.

“Just tell me. I’ll be a shoulder to cry on,” Daus nyengir sambilmenepuk-nepuk pundaknya sendiri.

“Huuu….Kapan aku pernah nangis di pundakmu? Eh aku lapar nih! Kita makan yuk, sambil cerita. Tenang saja, kutraktir.”

Kali ini tujuan kami adalah restoran bakmi langgananku yang lokasinya tidak terlalu jauh dari kampus. Setelah sampai, memesan makanan dan minuman, barulah aku pada kondisi siap menumpahkan perasaanku. Daus duduk di depanku. Genggaman tangannya menopang dagunya yang ditumbuhi jenggot, dan sikunya menjadi tumpuannya. Aku hafal gayanya. Ia siap “to be a shoulder to cry on”. Lalu tumpah ruahlah semuanya. Mulai saat perjumpaanku pertama kali dengan Sabrina, hingga rasa yang melandaku akhir-akhir ini.

Selesai aku bercerita Daus tertawa. “Hahaha, sobatku ternyata terkena virus merah jambu.” Namun, begitu tawanya selesai, Daus menatap mataku dalam-dalam. “Kamu serius sama Sabrina?”

“Serius?” tanyaku mengernyitkan dahi.

“Kamu jatuh cinta sama dia? Kamu serius?” tanyanya lagi.Aku menarik nafas dalam lalu menghembuskannya lagi. “Jatuh cinta…..ya! Serius……mmm….apa maksudmu dengan serius?”

“Serius ya serius. Kalau kamu serius, sudah cepetan nikah saja!”

“Hahh?! Nikah? Belum pernah ada sejarah dalam keluargaku anak ingusan semester lima mau nikah,” tukasku. “Kalau kasih saran yang rasional dong!” Continue reading

Datanglah Cinta

Dalam Al-Qur`an, Allah telah menceritakan mengenai Dzat-Nya yang Maha Agung, Maha Indah dan Maha Sempurna. Tiada cacat sedikit pun pada-Nya. Allah memiliki nama-nama yang baik yang mengandung sifat-sifat yang luhur yang lazim disebut asmaul husna.
Dari sinilah, seorang Muslim kudu paham bahwa ia wajib mencintai Allah, Dzat yang memiliki kesempurnaan dan keagungan mutlak. Kalau dalam keseharian, biasanya kita lebih menyukai orang-orang yang mempunyai sifat-sifat yang baik. Nah bagaimana dengan Allah yang mempunyai sifat-sifat yang baik, sempurna dan agung secara mutlak. Pastilah kita wajib mencintai-Nya di atas segala sesuatu.
Continue reading

Episode Cinta 1 : Sabrina

Sabrina Nur Laily. Sabrina cahaya malam. Ah, cocok sekali namanya. Ia memang bersinar, tapi sinarnya tak menyilaukan. Aku pertama kali mengenalnya saat masa orientasi mahasiswa baru dan penataran P4. Seluruh mahasiswa baru dikumpulkan, lalu dibagi dalam beberapa kelompok dan regu. Aku satu regu dengannya.

Sabrina, anak dari Fakultas Teknik itu, ternyata pandai berdebat. Diskusi dalam regu lebih mirip pertarungan satu lawan satu antara aku dan dia. Yang lain berfungsi sebagai penonton. Yang berpikir-pikir akan memihak aku atau dia.

“Aku nggak setuju sama Pancasila. Memang dia itu apa? Agama? Ideologi yang benar itu Islam.” Gadis yang selalu memakai rok dan jilbab lebar itu berkata penuh semangat. Aku melirik ke semua anggota regu. Untungnya kita muslim semua. Kalau tidak, wah bisa rame nih.

“Iya. Tapi Indonesia itu Bhinneka Tunggal Ika. Ada lima agama yang diakui negara. Pancasila berfungsi mempersatukan perbedaan-perbedaan itu. Indonesia bukan negara agama.” Aku pun tak kalah bersemangat.

Begitulah awal perseteruan kami. Aku si Pembela Pancasila dan Sabrina si Pejuang Islam. Sabrina pasti jenis Islam yang “begitu”, pikirku. Aku tidak menemukan definisi yang tepat dengan “begitu” yang aku maksud. Masa itu jumlah jilbaber masih sedikit sekali. Jadi jilbaber identik dengan Islam yang “begitu”.

“Hukum negara itu buatan manusia. Nggak mungkin adil. Hukum Allah yang paling adil. Syariat Allah harus ditegakkan.” Seperti biasa, Sabrina berapi-api. Eitss, biar masih culun begini, aku sudah resmi jadi mahasiswa Fakultas Hukum. Baru tadi pagi kartu mahasiswanya dibagikan. Aku mulai terbakar.

“Keadilan? Di Pancasila juga ada. Nggak inget ya? Sila kelima.” Aku menyindir.

“Hukum itu tergantung dimana dia diletakkan. Hukum turut mengakomodasi budaya dan adat setempat. Maka itu ada hukum adat. Kalau disahkan, ia jadi hukum yang mengikat.”

“Kalau begitu, hukum sifatnya relatif?” tanyanya.

“Ya. Seperti di Amerika Serikat, negara federal. Setiap negara bagian mempunyai hukum sendiri-sendiri yang berbeda dengan negara bagian lain. Yang penting hukum disepakati dan disahkan.” Uhh, gayaku menerangkan layaknya pengacara kondang saja.

“Kalau relatif, dimana letaknya keadilan?”

“Keadilan itu ketika setiap orang berusaha menegakkan hukum-hukum yang berlaku di wilayah tersebut.” Aku menangkis pertanyaannya.
Continue reading