“Puyeng nih!!” kataku mendengus.
“Just tell me. I’ll be a shoulder to cry on,” Daus nyengir sambilmenepuk-nepuk pundaknya sendiri.
“Huuu….Kapan aku pernah nangis di pundakmu? Eh aku lapar nih! Kita makan yuk, sambil cerita. Tenang saja, kutraktir.”
Kali ini tujuan kami adalah restoran bakmi langgananku yang lokasinya tidak terlalu jauh dari kampus. Setelah sampai, memesan makanan dan minuman, barulah aku pada kondisi siap menumpahkan perasaanku. Daus duduk di depanku. Genggaman tangannya menopang dagunya yang ditumbuhi jenggot, dan sikunya menjadi tumpuannya. Aku hafal gayanya. Ia siap “to be a shoulder to cry on”. Lalu tumpah ruahlah semuanya. Mulai saat perjumpaanku pertama kali dengan Sabrina, hingga rasa yang melandaku akhir-akhir ini.
Selesai aku bercerita Daus tertawa. “Hahaha, sobatku ternyata terkena virus merah jambu.” Namun, begitu tawanya selesai, Daus menatap mataku dalam-dalam. “Kamu serius sama Sabrina?”
“Serius?” tanyaku mengernyitkan dahi.
“Kamu jatuh cinta sama dia? Kamu serius?” tanyanya lagi.Aku menarik nafas dalam lalu menghembuskannya lagi. “Jatuh cinta…..ya! Serius……mmm….apa maksudmu dengan serius?”
“Serius ya serius. Kalau kamu serius, sudah cepetan nikah saja!”
“Hahh?! Nikah? Belum pernah ada sejarah dalam keluargaku anak ingusan semester lima mau nikah,” tukasku. “Kalau kasih saran yang rasional dong!” Continue reading
